PENGARUH TEKNIK NAFAS DALAM TERHADAP PERUBAHAN TINGKAT KECEMASAN PADA IBU PERSALINAN KALA I DI PONDOK BERSALIN NGUDI SARAS TRIKILAN KALI JAMBE SRAGEN Oleh : Abdul Ghofur dan Eko Purwoko1

ABSTRACT
Background: dread of pregnancy is possible caused by the lack of pregnancy knowledge
and experience about pregnancy by responder. Dread is one of respond effect of human
being to dread. Somebody worry so that cannot speak and try to adapt the dread before
pregnancy and often become the resistance in pregnancy. Giving treatment of deeply
respiration technique before pregnancy causes the calm patient and less the dread. This
matter is pain in bone and complication of patient’s pregnancy. The purpose of this research
is to know “The Influence of deeply respiration technique toward change of dread level to
maternity’s mother scale I”.
Methods: this research is experimental research that assesses the influence of giving deeply
respiration technique toward change of dread level to patient’s pregnancy by using type “one
group pre test and post test” by taking location in delivery clinic Ngudi Saras Trikilan Kali
Jambe Sragen. Method of taking sample is totally sampling, by responder is 12 people. The
analysis test is pired T, Test by using SPSS 12.
Conclusion: research which can be depicted is there is difference scale in dread level to
patient before given the treatment of deeply respiration technique and after of it.
There is significant influence from giving deeply respiration technique toward dread level to
patient’s pregnancy scale I.
Keywords: Deeply respiration technique, dread level of patient pregnancy scale I.
1 Staf pengajar STIKES Surya Global Yogyakarta
Alumnus Ilmu Keperawatan STIKES Surya Global Yogyakarta
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Kecemasan (ansietas) merupakan stressor yang dapat merangsang
sistim saraf simpati dan modula kelenjar andrenal. Pada keadaan ini akan
terjadi peningkatan sekresi hormone adrenalin sehingga dapat menimbulkan
tingkat kecemasan. Terutama berkaitan dengan kemarahan, agresifitas,
semangat berkompetisi, diburu waktu dan pendendam. Rasa cemas ini
merupakan keadaan mental yang tidak enak berkenaan dengan sakit yang
mengancam atau yang dibayangkan, ditandai oleh kekawatiran,
ketidakenakan dan perasa tidak baik yang tidak dapat dihindari, disertai
perasaan tidak berdaya karena merasa menemui jalan buntu dan
kemampuan untuk menemukan pemecahan masalah terhadap masalah yang
diahadapi (Kaplan and Saddock, 1998).
Proses keperawatan di Rumah Sakit seringkali mengakibatkan aspekaspek
peikologis sehingga menimbulkan berbagai permasalahan psikologis
bagi pasien yang salah satunya adalah kecemasan. Seperti yang
diungkapkan sarafino dalam kecemasan merupakan perasaan yang paling
umum dialami oleh pasien yang dirawat di Rumah Sakit. Kecemasan yang
sering terjadi adalah apabila pasien akan dilakukan pembedahan atau
tindakan yang mengancam jiwanya sebagian besar berfokus pada hubungan
antara kecemasan, dalam proses kelahiran atau masa perawatan
penyembuhan (Stuart and Sundeen, 1998 ).
Pasien yang akan melahirkan biasanya mengalami masalah-masalah
psikologis yang berupa reaksi emosi sebagai menifestasi gejala psikologis,
sebab tindakan yang akan dilakukan baik pembadahan maupun tindakan
pertolongan persalinan marupakan ancaman potensial maupun aktual pada
integritas seseorang yang dapat membangkitkan stress fisiologis maupun
psikologis. Reaksi emosi ini biasanya pada umumnya berupa reaksi negatif,
seperti menolak, takut, marah, sedih dan cemas. Reaksi tersebut merupakan
hasil dari cara-cara individu dalam memandang realitas. Setiap emosi negatif
atau menyakitkan terjadi karena individu berpikiran negatif terhadap konflik
dan kondisi stress yang dialaminya, padahal sebenarnya individu dapat
berpikiran positif, sehingga reaksi emosi yang muncul dapat berupa emosiemosi
positif yang mengarah pada kesehatan fisik dan kesejahteraan mental.
Rasa cemas ini merupakan keadaan mental yang tidak enak
berkenaan dengan sakit yang mengancam atau yang dibayangkan, ditandai
oleh kekhawatiran, ketidakenakan dan perasa tidak baik yang tidak dapat
dihindari, disertai perasaan tidak berdaya karena menemui jalan buntu dan
ketidak mampuan untuk menemukan pemecahan masalah terhadap masalah
yang dihadapi (Stuart and Sundeen, 1998). Hal ini terjadi karena kebanyakan
pasien persalinan kala I kurang mendapatkan informasi atau paparan yang
akurat tentang persalinan khususnya pasien persalinan primipara sehingga
pasien cenderung membuat interprestasi sendiri (self interpretation) yang
kadang-kadang berlebihan, seperti bahwa persalinan sangat menyakitkan
dan mengancam jiwa, akibat dari munculnya rasa cemas ini adalah
meningkatnya sensitivitas (kepekaan) emosi individu dengan menifestasi
mudah menangis dan mudah curiga (negative thingking) pada orang lain.
Fase awal yang biasanya terjadi pada pasien yang akan melahirkan,
mulai timbul rasa cemas yang berlebihan akibat dari rasa takut, sakit,
ancaman dalam proses persalinan itu sendiri, dalam keadaan ini pasien yang
akan mengalami persalinan yang berlangsung lama berkaitan dengan
peningkatan mortalitas dan morbiditas ibu pada anak. Bagian utama pada
persalinan diarahkan pada lambatnya persalinan, intervensi seperti amniotomi
dan pemberian oksitosin yang memperbesar tenaga dan mempercepat
proses persalinan. Rasa cemas selalu mengiringi dalam proses persalinan,
disebabkan ancaman-ancaman dari berbagai persoalan yang dapat
mengancam atau menimbulkan kematian (Frigoletto, 1998).
Studi pendahuluan yang dilakukan penulis, pada tanggal 15 Oktober
2007 terdapat 2 pasien yang akan melakukan persalinan kala I terlihat dan
nampak cemas, kerena tidak pernah diberikan perlakuan teknik nafas dalam
dan kurangnya paparan atau informasi tentang teknik persalinan. Oleh karena
hal tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang
pengaruh teknik nafas dalam terhadap perubahan tingkat kecemasan pada
pasien persalinan kala I di Pondok Bersalin Ngudi Saras Trikilan Kali Jambe
Sragen. Berdasarkan masalah bahwa tingginya tingkat kecemasan pada
pasien persalinan kala I peneliti dapat merumuskan masalah ” Bagaimanakah
perubahan tingkat kecemasan pada persalinan kala I melalui teknik nafas
dalam di Pondok Bersalin Ngudi Saras Trikilan Kali Jambe Sragen?”.
Tujuan Penelitian
Tujuan umum penelitian ini adalah mengetahui pengaruh teknik nafas
dalam terhadap perubahan tingkat kecemasan pada pasien persalinan kala I.
Sedangkan tujuan khususnya adalah : Pertama, diketahuinya gambaran
teknik nafas dalam, yaitu nafas dengan irama pernafasan dalam pada pasien
persalinan kala I. Kedua, diketahuinya karakteristik tingkat kecemasan pada
pasien persalinan kala I.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menilai
pengaruh teknik nafas dalam terhadap perubahan tingkat kecemasan pada
pasien persalinan dengan pendekatan eksperimen semu / quasi
eksperimen.Jenis desain Quasi eksperimen pada penelitian ini mengambil
jenis “One group pre test-posttest” di mana kelompok eksperimen diberikan
pre test sebelum di beri perlakuan yang kemudian diukur dengan posttest
setelah perlakuan.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di Pondok Bersalin Ngudi Saras Trikilan
Kali Jambe Sragen Jawa Tengah. Waktu penelitian ini dilakukan pada bulan
Desember 2007.
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian ini adalah keseluruhan subyek atau hal-hal yang
ingin diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang menjalani
persalinan kala I, berjumlah 12 responden yang menjalani persalinan kala I
pada bulan Desember 2007 di Pondok Bersalin Ngudi Saras Trikilan Kali
Jambe Sragen Jawa Tengah. Dalam pengambilan sampel pada penelitian ini
menggunakan teknik total sampling. Sedang sampel penelitian ini adalah
pasien persalinan kala I yang memenuhi kriteria inklusi sebagai berikut:
Pertama, pasien yang menjalani persalinanan kala I baik primigravida
maupun muligravida. Kedua, bersedia dijadikan responden. Ketiga, pasien
yang diukur tingkat kecemasannya mengalami minimal kecemasan dari
tingkat kecemasan berat sampai dengan tingkat kecemasan ringan, terdapat
12 responden. Sedangkan kriteria eksklusinya adalah : Pertama, pasien yang
tidak menjalani persalinan kala I. Kedua, tidak setuju untuk dijadikan
responden. Ketiga, tidak mengalami kecemasan.
Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer yang
langsung memberikan data kepada pengumpul data. Data yang perlu
dikumpulkan adalah biodata responden dan skala tingkat kecemasan pasien
persalinan kala 1.
Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian menggunakan pedoman wawancara dan lembar
observasi. Observasi dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan. Ada
beberapa skala tingkat kecemasan yang ditandai dengan gejala psikis, yaitu
kecemasan, tegang, takut, insomnia, kesulitan konsentrasi atau gangguan
intelektual dan perasaan depresi atau sedih. yang digolongkan menjadi
beberapa golongan, yaitu : cemas ringan, sedang, berat, dan panik.
Skor kurang dari 150 : tidak ada cemas
Skor 150 – 199 : cemas ringan
Skor 200 – 299 : cemas sedang
Skor 300 – 399 : cemas berat
Skor lebih dari 399 : cemas luar biasa/ panik
Pengolahan dan Analisis Data
Kriteria hasil dari pemberian teknik nafas dalam pada pasien
persalinan kala 1 adalah terjadinya intensitas penurunan tingkat kecemasan
setelah diberikan perlakuan selama 15 menit. Indikator dari pemberian teknik
nafas dalam pada pasien persalinan kala 1 berdasarkan kriteria hasil adalah
terjadi penurunan tingkat kecemasan, dari tingkat yang panik berubah ke
tingkat yang ringan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Penelitian tentang pengaruh teknik nafas dalam terhadap perubahan
tingkat kecemasan pada pasien persalinan kala 1 yang dilaksanakan di Klinik
Kebidanan Ngudi Saras Trikilan Kali Jambe Sragen, sejak Bulan Desember
2007, adapun pengambilan sampel diperoleh responden yang telah
memenuhi kriteria sebanyak 12 responden. Perlakuan yang diberikan oleh
peneliti dalam penelitian ini adalah teknik nafas dalam selama 15 menit dalam
1 kali pertemuan.
Jumlah responden berdasarkan umur di Klinik Ngudi Saras Trikilan Kali
Jambe Sragen sebanyak 3 orang berumur 20-25 tahun , 3 orang berumur 26-
30 tahun, dan sebanyak 6 orang yang berumur 30-35 tahun. Berdasarkan
pekerjaan yang paling banyak bekerja sebagai ibu rumah tangga 7 responden
(58,33%). Berdasarkan riwayat persalinan responden yang menjalani
persalinan paling banyak yaitu persalinan multigravida sebanyak 7
responden (58,33%), sedangkan yang menjalani persalinan primigravida
sebanyak 5 responden (42,33%). Berdasarkan riwayat persalinan, semua
responden belum pernah ada yang melakukan persalinan dan ada juga yang
sudah pernah melakukan persalinan (tabel 1).
Berdasarkan umur responden, banyak pasien yang akan menjalani
persalinan pada umur 20 – 25 tahun. Pasien yang berada pada umur tersebut
banyak yang mengalami tingkat kecemasan berat yaitu sebanyak 3
responden (25 %), kecemasan dapat terjadi pada semua usia, tapi lebih
banyak terjadi pada usia lebih dewasa. Sedangkan pada umur 26 – 30 lebih
banyak mengalami tingkat kecemasan berat yaitu sebanyak 5 responden
(42, 33%).dan pada umur 26 – 30 hanya 1 responden (8,33%) yang
mengalami kecemasan sedang. Sedangkan pada umur yang lebih tua umur
31 – 35 tahun pada penelitian ini lebih mengalami kecemasan sedang
sebanyak 2 reponden (16, 67%) (tabel 2). Pendapat Soewardi (1998) bahwa
individu yang matur adalah individu yang memiliki kematangan kepribadian,
lebih sukar mengalami stress karena indivudu yang matur mempunyai daya
adaptasi yang besar terhadap stressor yang timbul.
Sebagian besar responden yang bekerja sebagai ibu rumah tangga
merupakan responden yang paling banyak mengalami tingkat kecemasan
berat sebanyak 5 responden (42,33%) faktor pekerjaan merupakan salah satu
faktor yang berpengaruh terhadap kecemasan, dimana seorang memiliki
pekerjaan beresiko justru memiliki koping yang lebih baik karena terbiasa
menghadapi keadaan atau situasi-situasi yang rumit (tabel 3). Pendapat ini
sesuai dengan penelitian ini bahwa pasien yang mengalami tingkat
kecemasan yang paling banyak bekerja sebagai ibu rumah tangga. Dimana
mempunyai stressor yang paling berat dibanding pekerjaan lain.
Jenis persalinan berpengaruh pada kecemasan yang terjadi pada
responden Di Klinik Bersalin Ngudi Saras Sragen. adapun yang termasuk
jenis persalinan antara lain persalinan multigravida dan primigravida.
Sedangkan yang termasuk persalinan primigravida tingkat kecemasanya lebih
tinggi sebanyak 5 responden 41,33%.dibanding persalinan multigravida 4
responden 33,33.%. Responden yang akan menjalani persalinan lebih banyak
mengalami minimal kecemasan (tabel 4).
Berdasarkan perhitungan statistik dengan menggunakan paired t test
didapatkan nilai t hitung = 13,000 sedangkan pengambilan keputusan dapat
langsung berdasarkan nilai signifikansi yang besarnya 0,000 dimana sig 1,796 (t hitung >t tabel), dengan demikian Ho ditolak,
artinya ada beda secara signifikan tingkat kecemasan pada ibu persalinan
kala I antara sebelum diberi perlakuan teknik nafas dalam dan setelah
diberikan teknik nafas dalam. Dengan kata lain, pemberian teknik nafas
dalam efektif untuk menurunkan tingkat kecemasan pada persalinan kala I.
Berikut ini disajikan tabulasi data dari tabel 1 sampai dengan 8 :
Tabel 1. Karakteristik Responden berdasarkan Umur, Pekerjaan, dan Riwayat
Persalinan
No Karakteristik Frekuensi Persentase (%)
Usia :
a. 20 – 25 tahun
b. 26 – 30 tahun
d. 31 – 35 tahun
363
25
50
25
Jumlah 12 100
2 Pekerjaan
a. Ibu rumah tangga
b. Wiraswasta
c. Bidan
d. PNS Guru
7122
58,33
8,33
16,67
16,67
Jumlah 12 100
3 Riwayat persalinan
a. Multigravida
b. Primigravida
75
58,33
41,33
Jumlah 37 100
Sumber : data primer tahun 2007
Tabel 2. Tingkat Kecemasan Responden yang Diukur menggunakan AAS
berdasarkan Umur
Umur Tingkat kecemasan Total
Berat % Sedang % Frekuensi %
20 – 25 tahun 3 25,0 0 0 3 25
26 – 30 tahun 5 41,66 1 8,33 6 50
31 – 35 tahun 1 8,33 2 16,67 3 25
Jumlah 9 74,99 3 25,0 12 100
Sumber : data primer 2007
Tabel 3. Tingkat Kecemasan Responden yang Diukur menggunakan AAS
berdasarkan Pekerjaan
Pekerjaan Tingkat kecemasan Total
Berat % Sedang % Frekuensi %
PNS guru 2 16,67 0 0 2 16,77
Wiraswasta 1 8,33 0 0 1 8,33
Ibu rumah tangga 5 41,66 2 16,67 7 58,0
Bidan 1 8,33 1 8,33 2 16,67
Jumlah 9 74,99 3 24,99 12 100
Sumber : data primer 2007
Tabel 4. Tingkat Kecemasan Responden yang Diukur Menggunakan AAS
berdasarkan Riwayat Persalinan
Jenis Persalinan Tingkat kecemasan Total
Berat % Sedang % Frekuensi %
Multigravida 4 33,33 3 25 7 58,0
Primigravida 5 41,33 0 0 5 41,33
Jumlah 9 74,99 3 25 12 100
Sumber : data primer 2007
Tabel 5. Pengaruh Pemberian Teknik Nafas Dalam terhadap Perubahan
Tingkat Kecemasan pada Pasien Persalinan Kala I
n t sign
Tingkat
kecemasan
12 13.000 0,000
Sumber: data primer 2007
Tabel 6. Efektifitas Pemberian Teknik Nafas Dalam terhadap Perubahan
Tingkat Kecemasan Sebelum Perlakuan pada Pasien Persalinan
Kala I dengan Pengukuran Menggunakan AAS.
Tingkat Kecemasan Pre Test
Tingkat
Kecemasan
Frekuensi Persentase Persentase Persentase
kumulatif
Sedang 3 25,0 25,0 25,0
Berat 9 75,0 75,0 100,0
Total 12 100,0 100,0
Sumber: data primer 2007
Tabel 7. Efektifitas Pemberian Teknik Nafas Dalam terhadap
PerubahanTingkat Kecemasan Sesudah Perlakuan pada Pasien
Persalinan Kala I dengan Pengukuran Menggunakan AAS.
Tingkat Kecemasan Post Test
Tingkat
Kecemasan
Frekuensi Persentase Persentase Persentase
kumulatif
Ringan 4 33,3 33,3 25.0
Sedang 8 66,7 66,7 100,0
Total 12 100,0 100,0
Sumber: data primer 2007
Tabel 8. Efektifitas Pemberian Teknik Nafas dalam Pre dan Post Test dan
diukur dengan menggunakan AAS
Tingkat
Kecemasan
Jumlah
responden
pre
intervensi
Pre
Intervensi
Frekuensi
(%)
Jumlah
responden
post intervensi
Post
Intervensi
Frekuensi
(%)
Tidak ada cemas 0 0 0 0
Cemas ringan 0 0 4,0 33,33
Cemas sedang 3 25,0 8,0 66,67
Cemas berat 9 74,97 0 0
Panik 0 0 0 0
Total 12 100 12 100
Sumber: data primer 2007
Pembahasan
Gambaran Pasien Yang Mengalami Kecemasan pada Persalinan Kala I
Kecemasan adalah ketegangan, rasa tidak nyaman dan kekhawatiran
yang timbul karena dirasakan terjadi suatu yang tidak menyenangkan tetapi
sumbernya dari sebagian besar tidak diketahui dan berasal dari dalam
(Depkes RI, 1990).
Kecemasan adalah respon terhadap suatu ancaman yang sumbernya
tidak diketahui, internal, samar-samar atau konfliktual (Kaplan and Sadock,
1997). Sitat dalam Muzaham, 1997 menggambarkan kecemasan dalam dua
golongan yaitu : Pertama, kekhawatiran mengambang ( floating anxiety ) yaitu
respon umum yang biasa dialami oleh setiap orang, tidak terlepas dari
penyakit itu sendiri. Kedua, kecemasan khusus ( specific anxiety ) yaitu suatu
respon psikologis terhadap demam atau rasa sakit yang bakal dialami sesuai
dengan tingkat keparahan atau ancaman yang ditimbulkan oleh suatu gejala
penyakit. Berdasarkan penggolongan tersebut, kekhawatiran pasien yang
disebabkan karena perubahan lingkungan, hilangnya kontak sosial dan
prosedur rumah sakit lainnya, yang dikatakan sebagai floating anxiety,
sedangkan specific anxiety yang dialami pasien disebabkan oleh keadaan
sakit pasien, yaitu gejala-gejala penyakit, tingkat keparahan, pengobatan
serta hasil pengobatan.
Kecemasan merupakan suatu respon terhadap situasi yang penuh
dengan tekanan. Stress dapat didefinisikan sebagai suatu persepsi ancaman
terhadap suatu harapan yang mencetuskan cemas. Hasilnya adalah bekerja
untuk melegakan tingkah laku stress dapat berbentuk psikologis, sosial atau
fisik. Beberapa teori memberikan kontribusi terhadap kemungkinan faktor
etiologi dalam pengembangan kecemasan (Stuart and Sudeent, 1998).
Gambaran pasien di Pondok Bersalin Ngudi Saras Trikilan Kali Jambe
Sragen yang mengalami kecemasan pada umumnya memiliki tanda dan
gejala sebagai berikut ; keadaan keprihatinan, rasa gelisah, ketidak tentuan,
atau takut dari kenyataan atau persepsi ancaman sumber actual yang tidak
diketahui atau dikenal (Stuart and Sudeens, 1998). Pemberian teknik nafas
dalam pada pasien akan terjadi penurunan dalam ketegangan untuk
mencapai keadaan rileks, memusatkan perhatian pada teknik pernafasan,
dan mengencangkan serta mengendurkan kumpulan otot secara bergantian
sehingga dapat merasakan perbedaan antara relaksasi dan ketegangan. Dari
hasil penelitian, gambaran tingkat kecemasan setelah pemberian teknik nafas
dalam pada waktu selama 15 menit diperoleh penurunan nilai tingkat
kecemasan rata-rata standar devisiasinya 0,4923.
Gambaran Penggunaan Teknik Nafas Dalam Terhadap Penurunan
Tingkat Kecemasan pasien persalinan.
Dari banyak jenis terapi, pernafasan adalah salah satu yang diyakini
bisa menyembuhkan berbagai penyakit dari sesak nafas hingga kanker lewat
kemampuannya memperlancar peredaran darah (Lilik, 2006). Pernafasan
bagi proses dalam tubuh, psikologis, olahraga, estetika, spiritual, dan
penyembuhan, semuanya bisa ditingkatkan hingga ke tingkat yang luar biasa
dengan mengembangkan pernafasan secara sadar dan belajar bagaimana
membangkitkan dan mengarahkan energi yang disediakan oleh pernafasan
yang benar dan terampil (Zi, 2003).
Teknik nafas dalam juga dapat memberikan individu kontrol diri ketika
terjadi rasa ketidaknyamanan atau cemas, stres fisik dan emosi yang
disebabkan oleh kecemasan. Teknik ini tidak hanya digunakan pada individu
yang sakit tetapi bisa juga digunakan pada individu yang sehat. Pelaksanaan
teknik relaksasi bisa berhasil jika pasien kooperatif. (Potter dan Perry, 2006).
Menguasai teknik pernafasan merupakan modal penting karena teknik
tersebut sangat berguna selama proses persalinan berlangsung. Keuntungan
utamanya, teknik pernafasan tersebut memberi perasaan yang luar biasa
indah dalam mengontrol tubuh. Pernafasan dapat meningkatkan kemampuan
menahan rasa sakit. Dari hasil penelitian pemberian teknik nafas dalam
dalam penurunan tingkat kecemasan pada jarak waktu 15 menit diperoleh
nilai rata-rata 200-299 tingkat kecemasan sedang. Dengan standar
deviasinya = 0,4932. Sedangkan pada standar penurunan tingkat kecemasan
diperoleh nilai rata-rata adalah 150 -199 kecemasan ringan dengan standar
deviasinya = 0,2886.
Perbedaan Pengaruh Pemberian Teknik Nafas Dalam Sebelum Dan
Sesudah Perlakuan Terhadap Perubahan Tingkat Kecemasan
Perlakuan teknik nafas dalam banyak memberikan pengaruh
penurunan tingkat kecemasan setelah diberi perlakuan selama 15 menit. Hal
ini dapat dikatakan bahwa pemberian teknik nafas dalam efektif dilakukan
untuk penurunan tingkat kecemasan pasien persalinan kala I dengan hasil
yang diperoleh adalah sebelum diberikan perlakuan tingkat kecemasan
pasien 300-399 cemas berat. Setelah diberikan perlakuan teknik nafas dalam
selama 15 menit diperoleh rata-rata penurunan tingkat kecemasan yaitu 200-
299 cemas sedang. Selanjutnya apabila hasil tersebut dianalisis dengan uji
statistik t-test berdasarkan hasil nilai = t hitung>dari pada t tabel =
13.000>1,796 dengan taraf singnifikan 0,05 sehingga Ho ditolak, artinya ada
perbedaan secara signifikan tingkat kecemasan pada ibu yang menjalani
persalinan kala I antara sebelum diberi perlakuan teknik nafas dalam dan
setelah diberikan teknik nafas dalam. Hal tersebut sesuai dengan teori yang
menyatakan bahwa pernafasan adalah salah satu yang diyakini bisa
menyembuhkan berbagai penyakit dari sesak nafas hingga kanker lewat
kemampuanya memperlancar peredaran darah. Pernapasan bagi proses
dalam tubuh, psikologis, olah raga, estetika, spiritual, dan penyembuhan,
semuanya bisa ditingkatkan ke tingkat yang luar biasa dengan
mengembangkan penapasan secara sadar dan belajar bagaimana cara
membangkitkan dan mengarahkan energi yang disediakan oleh pernapasan
yang benar dan terampil (Zi, 2003).
Hal tersebut juga diperkuat dengan teori Chy yi yang menyatakan bahwa
pada masa lahir dan pasca lahir, beberapa latihan fisik dianjurkan untuk
membantu kelahiran dan pemulihan. Latihan pernafasan yang khusus
biasanya jarang dianjurkan. Jika sudah terampil melakukan pernapasan
dalam-dalam maka pembangunan latihan fisik dan pernafasan akan
memberikan hasil yang lebih baik, metode psikoprofilaktik yaitu persiapan
psikologis dan fisik menjelang persalinan atau disebut juga dengan metode
lemaze atau metode lain untuk persalinan yang alami. Semua metode itu
membutuhkan keterampilan bernafas sesuai dengan tahap-tahap persalinan
pembukaan, peralihan dan pengejanan dengan menggunakan metode Chy
Yi (Zi, 2003). Teknik ini tidak hanya digunakan pada individu yang sakit tetapi
bisa juga digunakan pada individu yang sehat. Pelaksanaan teknik ini bisa
berhasil jika pasien kooperatif (Potter dan Perry, 2006). Begitu juga menurut
Neumen, bahwa manusia merupakan sistim internal yang terbuka dan
terinteraksi dengan lingkungan internal maupun eksternal yang dapat
menyebabkan stress (stressor). Adapun stressor menyebabkan seseorang
untuk berinteraksi untuk mempertahankan kesehatannya melalui mekanisme
pemecahan masalah atau koping tertentu. Penyebab stress dapat berasal
dari diri sendiri, diluar individu atau interaksi dengan orang lain. Pengaruh
stressor serta kemampuan koping yang digunakan (Gaffar, 1999).
Penurunan tingkat kecemasan pada pasien persalinan kala I sesudah
diberikan perlakuan teknik nafas dalam sesuai dengan tori yang dikemukakan
oleh Chilson (1997) menjelaskan bahwa pasien yang tidak mengalami
penurunan tingkat kecemasan apabila kurang atau tidak mendapatkan
informasi prosedur persalinan dan kecemasan pasien persalinan tersebut
akan menurun apabila diberi informasi atau penjelasan yang kuat oleh tenaga
kesehatan. Selain itu juga ada ahli yang menyatakan bahwa pasien yang
telah mendapatkan penjelasan sebelum persalinan maka akan marasa lebih
tenang dari hal-hal ini mengurangi rasa sakit, atau komplikasi lain setelah
persalinan, disamping memperpendek lamanya perawatan di klinik bersalin.
Dilihat dari uji statistik pada penelitian ini, dibandingkan dengan penelitian
yang telah dilakukan sebelumnya didapatkan hasil yang sama, yaitu teknik
nafas dalam efektif atau berpengaruh untuk menurunkan tingkat kecemasan
pasien persalinan kala I dan secara statistik berbeda.
KESIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini adalah : Pertama, karakteristik tingkat
kecemasan pada pasien persalinan kala I sebelum diberi perlakuan teknik
nafas dalam tingkat kecemasan pasien berkisar panik, besar, sedang, ringan.
Karakteristik tingkat kecemasan pasien setelah diberi perlakuan teknik nafas
berkisar cemas ringan,sedang dan berat. Kedua, terdapat perbedaan yang
signifikan pemberian teknik nafas dalam terhadap penurunan tingkat
kecemasan pada pasien persalinan kala I.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto S. (1998). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek, Renika
Cipta, Jakarta
Bobak, et al. (2005) Buku Ajar : Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC.
Corwin, E. (1997) Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.
Darajat, 2. 1998. Ilmu Jiwa, Bulan Bintang Jakata
Farrer, Helen. (1999) Perawatan Maternitas. Alih Bahasa : Andry Hartono.
Jakarta : EGC.
Gaffar, L.J. (1999) Pengantar keperawatan Profesional. Jakarta : EGC.
Hawari, dadang, (2001). manajemen stres cemas dan depresi. Balai Penerbit.
FKUI, Jakarta
Henderson, C. (2005) Buku Ajar Konsep Kebidanan. Alih bahasa : Ria
Anjarwati. Jakarta ECG
Hidayat, A.A.(2005) Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta :
Salemba Medika.
Kaplan, Harold I, Sadock, Benjamin J. (1998). Ilmu Kedokteran Jwa Darurat,
Widya Medika, Jakarta
Long, BC. 1996, Perawat Medikal Bedah, Edisi 2, Alih Bahasa Yayasan
Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan, Pajajaran, Bandung
Mander, Rosemari. (2004) Nyeri Persalinan. Alih Bahasa : Bertha Sugiarto.
Jakarta : EGC.
Maulana. (2003) ”Pengaruh Teknik Relaksasi Terhadap Tingkat Nyeri Pada
Pasien Post Partum Di RSUD Bantul” Skripsi FK Muhamadiah
Yogyakarta.
Mardeyanti. (2001) Perbedaan Kecemasan Ibu Hamil Primigravida dan
Miltigravida Menghadapi Persalinan. Puskesmas Tegal Rejo
Yogyakarta. Skripsi FK Muhamadiah Yogyakarta.
Margatan, Arcole. (1997) Kiat Sehat Menanggulangi Stres : Tekanan Mental
Yang Dapat Menjelma Menjadi Penyakit Berat. Solo : CV. Aneka.
Mochtar, Rustam.(1998) Sinopsis Obstetry : Obstetry Fisiologi & Obstetry
Patologi. Jakarta : EGC.
Murkoff, Heidi. (2006) Kehamilan : Apa Yang Anda Hadapi Bulan Per Bulan.
Alih Bahasa : Susi Purwoko. Jakarta : Arcan.
Notoatmojo, S. (2002) Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT Rinika
Cipta.
Nursalam. (2003) Konsep dan Penerapan Metode Penelitian Ilmu
Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
Nuraeni. (2004) Pengaruh Bimbingan Relaksasi Nafas Dalam Tergadap
Kecemasan Ibu Inpartu Primigravida Kala I Di Puskesmas Sleman
Yogyakarta, Skripsi FK UGM.
Potter, P.A. & Perry, A.G. (2006) Buku Ajar Fundamental Keperawatan :
Konsep, Proses, dan Praktik, vol. 2, ed.5.Alih Bahasa : Yasmin, A.
Jakarta : EGC.
Prawirohusodo, S. 1998. Stres dan kecemasan. Kumpulan makalah
simposium stres dan kecemasan, Fakultas Kedokteran Jiwa, FKUGM,
Yogyakarta
Riwidikdo, H. (2006) Statistik Kesehatan : Belajar Mudah Teknik Analisis Data
Dalam Penelitian Kesehatan. Yogyakarta :Mitra Cendekia Press
Schrock, Theodore R, MD. 1997. Ilmu Bedah (Handbook Or Surgency), Edisi
7 Alih Bahasa Oleh Med. Adji Dharma, ECG, Jakarta
Smeltzer, S.C and Bare, B.G. (2002) Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Sudaarth, vol.1, ed.8. Alih Bahasa : Monica E, Ellen P.
Jakarta : EGC.
Stoppar, M. 2006, Buku pintar kehamilan. Magelang. Jawa Tengah
Stuart G. W. Sundeen, S.J. 1998, Buku Saku Keperawatan Jiwa, edisi 3,
ECG. Jakarta
Zi, N. (2003) The Art of Breathing. Jakarta :PT Buana Ilmu Populer

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s